SELAMAT DATANG DI SITUS BLOG HADZIHI SABILI - JEHADEMUSA

Minggu, 08 Maret 2015

Cintailah Pekerjaanmu


Bagi mereka yang telah mendapatkan kenikmatan dari tempat mereka bekerja, tentu amat sangat mudah untuk menyebutkan kalimat di atas: Cintailah Pekerjaanmu. Namun bagi mereka yang “disakiti” oleh tempatnya bekerja, jangan harap ada kata cinta di dalamnya.

Saya menulis ini bukan berarti bahwa saya telah mendapatkan banyak kenikmatan dari perusahaan tempat saya bekerja. Kalau dihitung-hitung, saya kira lebih banyak sakitnya daripada nikmatnya. Hanya karena sudah terlanjur saja sehingga saya juga ikut-ikutan mengatakan: “Cintailah Pekerjaanmu”.

Cintailah pekerjaanmu, inilah modal awal untuk tetap tersenyum. Jika hari-hari kita isi dengan menggerutu kepada perusahaan, semua efek gerutu itu akan kembali lagi kepada diri kita sendiri. Jadi lebih baik membalik semua kata negatif menjadi positif. Kita hadirkan keindahan di dalam bekerja yakni dengan mulai mencinta. Cintai apa saja yang mampu engkau cintai. Jika ternyata masih susah, mulailah dengan belajar mencintai, angsur rasa sayang terhadap apa yang sedang engkau kerjakan. Angsur keinginan yang menggebu untuk menyelesaikan pekerjaan demi pekerjaan yang diberikan kepadamu. Jangan jadikan ia beban, sebab itu akan membebani.

Saya memiliki tips untuk mencintai pekerjaan yakni menjadikan pekerjaan sebagai tempat belajar. Belajar tentang apa-apa yang kita ketahui. Belajar memberikan yang terbaik, tetapi bukan untuk pencitraan. Belajar menggali hal-hal baru yang belum pernah saya peroleh sebelumnya. Belajar memulai untuk suatu yang baru. Belajar mengembangkan sesuatu kebaikan yang menurut saya bagus untuk diadakan di tempat kerja. Belajar berbagi untuk suatu peningkatan yang bermanfaat bagi diri dan perusahaan.

Itulah keseharian saya di perusahaan, PT Lontar Papyrus Pulp and Paper Industry, saya selalu berpikir bahwa keberadaan saya harus memberikan suatu yang baik bagi perusahaan dan demikian sebaliknya, jika perusahaan tetap diam tak membalas sesuai apa yang saya inginkan, maka saya akan berpikir bahwa apa yang saya lakukan adalah bagian dari proses pembelajaran mematangkan diri, bukan untuk sesiapa. Seorang atasan saya pernah berpesan, pasang niat berada di sini untuk belajar. Jika hanya untuk mencari uang maka itu tak membuatmu beda dengan para pekerja lain. Beliau salah seorang direktur di perusahaan ini sekaligus sebagai “Ibu” bagi kami di tempat kerja, seseorang yang menjadi tempat saya bertanya dan meminta nasihat atas apapun permasalahan pekerjaan.

Sejak tahun 2014, perusahaan tempat saya mengabdi telah berkomitmen untuk meraih sertifikat sistem manajemen K3 dengan standar OHSAS. Saya dipilih (sebenarnya tidak sengaja saja terpilih, hehe, suatu waktu kelak mungkin akan saya ceritakan juga proses penetapannya) untuk menjadi salah seorang tim pengembang sistem manajemen K3. Beruntung karena sebelumnya saya sudah memiliki pengalaman di bidang sistem manajemen berbasis ISO dan juga Sistem Jaminan Halal sehingga pengalaman itu saya aplikasikan di dalam mengembangkan sistem manajemen K3 sesuai dengan standar OHSAS.

Akhir Februari 2014, saya salah satu dari empat orang tim OHSAS perwakilan perusahaan dikirim untuk studi banding implementasi sistem manajemen K3 OHSAS 18001 di perusahaan yang masih satu grup, orang menyebutnya “sister company”. Perusahaan ini berada di Serpong yakni PT Indah Kiat Pulp & Paper. Kami adalah salah satu perusahaan yang berada di bawah kelompok bisnis APP (Asia Pulp & Paper), orang kadang menyebutnya sebagai 10 perusahaan raksasa dunia di bidang bubur kertas dan kertas, semoga saja impian itu terwujud bila seandainya memang masih impian.

Sepulang dari studi banding, kami langsung bergerak dengan cepat. Saya diberikan tanggung jawab untuk memastikan seluruh sistem dokumentasi meliputi kebijakan dan manual perusahaan serta bebragai prosedur operasional standar telah sesuai dengan aturan standar OHSAS 18001:2007. Tidak terlalu sulit bagi saya, alhamdulillah. Apalagi dibimbing langsung oleh seorang berjabatan direktur dengan pengalaman puluhan tahun mengembangkan sistem manajemen. Saya tidak membutuhkan training resmi yang membuat perusahaan harus keluar uang banyak. Berbekal pengalaman saja dan bimbingan dari para senior akhirnya hingga awal tahun 2015 lalu, kami berhasil melalui tahap 1 audit sertifikasi. InsyaAllah Maret 2015 kami akan menghadapi tahap 2 audit sertifikasi, sekaligus menjadi ujian akhir bagi proses sertifikasi OHSAS 18001:2007 di perusahaan kami tercinta.

Demikian dulu ya, lain waktu kita sambung.

Intinya, cintailah pekerjaanmu, hehe







8 Tulisan Populer Pekan Ini