SELAMAT DATANG DI SITUS BLOG HADZIHI SABILI - JEHADEMUSA

Senin, 14 Januari 2013

Seputar Cerita Menentukan Pilihan: Wafda atau Wirda?


Jika sebuah  judul sebuah tulisan berbentuk kalimat tanya maka otomatis isi tulisannya adalah memberi jawaban. Ini tentang pilihan antara dua hati, satu hati memilih ke sini atau satu hati memilih ke sana. Karena hanya punya satu hati, tidak mungkin mendua di dalam pilihan. Harus ada keputusan, berat memang, akan tetapi dalam sejarahnya “pilihan” maka setiap yang namanya pilihan ya harus dipilih. Bukan begitu?
Saya memilih Wafda atau Wirda? Mari kita simak ulasan di bawah. Jika iman telah terpatri rapi, kokoh di dalam dada, menentukan pilihan bukanlah hal sulit. Ikuti saja kehendak-Nya dan insyaAllah di sana ada kebaikan, rahmat, dan perlindungan-Nya. Bukan begitu? Ya, begitulah. Jika memilih isteri juga begitu, memilih gadis mana yang cocok untuk menemani kehidupan dan mengisi relung iman kita. Bagaimana memilihnya, Allah punya tuntunan tentang itu. Kalau soal memilih, pilihlah yang menetramkan dan menyejukkan mata hati. Di sana ada cinta, ya cinta. Bismillah, mari kita lanjutkan dulu tulisan ini.

Pada waktu shubuh tadi, saya melewati bacaan dari Al Qur’an Surat Maryam. Ada dua kalimat Al Qur’an yang menginspirasi tulisan ini. Kalimat pertama yang saya baca: “yauma nahsyurul muttaqina ilarrahmani wafda” (19:85) yang artinya pada hari kami mengumpulkan orang-orang bertaqwa di hadapan Yang Maha Pengasih “bagaikan kafilah yang terhormat”. Kemudian disusul oleh (19:86), saya baca: “wa nasuqulmujrimina ila jahannama wirda”, dan kami giring orang-orang berdosa ke dalam neraka jahanam “dalam keadaan dahaga”. Translasi kedua makna ayat saya ambil dari mushhaf Depag RI yang diterbitkan ‘Syaamil’. Tentang ketepatan makna da tafsir detil tentang ‘Wafda” dan “Wirda” bukanlah fokus tulisan saya, lantaran ilmu saya sendiri yang tidak ada apa-apanya. Namun secara umum mengisyaratkan bahwa di dalam dua ayat itu ada pilihan bagi kita, wafda atau wirda? Dikumpulkan secara terhormat atau Digiring dalam keadaan dahaga?

Satu syarat memiliki wafda adalah dengan taqwa. Satu syarat untuk memiliki wirda adalah dengan dosa. Silakan dipilih, dipilih, dipilih dan dipilih. Hidup adalah pilihan dan pilihan berada di sepanjang proses hidup. Setiap detik adalah pilihan. Memilih itu tiada masa sudahnya. Setiap waktu adalah memilih, memilih, kemudian memilih dan terus memilih. Golongan putih pun bukan berarti tidak memilih, ia harus memilih untuk tidak bergolongan. Dalam perkara “wafda dan wirda”, tidak ada golongan putih yang termaknai sebagai memilih wafda dan juga tidak memilih wirda. Yang ada hanya dua, memaknai putih sebagai taqwa atau memaknai putih sebagai tak bertaqwa (menjadi pendosa).

Dari lubuk hati paling dalam, atas nama cinta yang berkomitmen, akhirnya saya mengajak semua pembaca untuk (belajar) memilih wafda, belajar untuk menjadi generasi taqwa, genarasi yang dikasihi, yang berkumpul dalam barisan terhormat di hadapan Rabb semesta alam. Maafkan kami wirda, bukan karena namamu yang tak cantik dan tak indah yang membuat kami tak memilihmu. Ini karena makna terselubung dari dirimu, sungguh kami takut digiring dalam keadaan dahaga sehingga tidak ingin menjadi pendosa.

Saya memilih Wafda, bismillah.

Tidak ada komentar:

8 Tulisan Populer Pekan Ini