SELAMAT DATANG DI SITUS BLOG HADZIHI SABILI - JEHADEMUSA

Minggu, 19 Juli 2015

Cerita Ramadhan 1436 H di Masjid Al Jihad

Alhamdulillah...

Ramadhan 1436 H kali ini terasa begitu berbeda dari sebelumnya. Meskipun dalam suasana yang beda, tetap saja diri merasa bahwa Ramadhan kali ini masih jauh dari sempurna. Masih banyak amal-amal ibadah yang terlewatkan oleh diri, mungkin karena beranggapan bahwa usia masih muda dan mungkin masih yakin bisa bertemu kembali di tahun depan. Astaghfirullah.

Harapan yang amat sangat kuat, semoga Allah masih mempertemukanku dengan Ramadhan 1437 H akan datang. Aamiin allaahumma aamiin. Kabulkan doaku ya Allah.

Baiklah aku akan ceritakan singkat tentang Ramadhan 1436 H di lokasi dimana saya berdomisili. Tepatnya di sebuah kecamatan di daerah Provinsi Jambi, Kab. Tanjung Jabung Barat. Nama kecamatannya adalah kecamatan Tebing Tinggi. Di sinilah sebuah pabrik kertas tissue "raksasa" di Jambi berdiri tegak. Hehe, sebut saja raksasa karena memang lumayan besar dan satu-satunya di provinsi ini. Sebenarnya ada dua masjid di komplek perusahaan ini, satu masjid di komplek perumahan karyawan dan satu masjid di komplek mess karyawan. Kalau penghuni mess umumnya adalah lajang atau mereka yang melajangkan dirinya (keluarga tinggal jauh dari mereka).

Masjid Al Jihad adalah masjid yang diisi oleh kebanyakan anak muda. Lihat saja di hampir setiap jejak karpet di saat tarawih ada wajah-wajah muda berdiri tegak di atasnya. Setiap hari di masjid ini selalu ada hidangan berbuka (takjil) yang disediakan oleh pengurus masjid. Di setiap jelang berbuka, pelataran masjid ini ramai oleh anak-anak muda, sebut saja anak mudanya adalah aku sendiri, hehe masih merasa muda :)

Setiap malam menjelang shalat tarawih, kegiatan ba'da isya dimulai dengan pengarahan dari protokol, lalu dilanjutkan dengan tilawah Al Quran singkat, kemudian ceramah dari ustadz yang diundang oleh pengurus masjid. Atas izin Allah, aku pun pernah sekali diminta untuk menjadi penceramah, inipun karena menggantikan salah seorang ustadz yang berhalangan hadir. Kemudian dua kali mengimami shalat tarawih berjamaah di masjid ini. Seperti umumnya mereka shalat, tarawih yang aku imami hanya menggunakan surat-surat pendek saja. Syukurlah, tidak repot untuk mengerutkan kening mengulang hafalan Quran. Coba kalau pengurusnya minta dibacain 1 juz, mungkin aku bakalan keringatan.

Hal yang istimewa di masjid kami ini, Masjid Al Jihad, yakni adanya kegiatan i'tikaf yang difasilitasi oleh pengurus masjid. Mulai malam 21 Ramadhan dan berakhir di pagi hari 29 Ramadhan. I'tikaf yang dilakukan hanya sebagian waktu saja sebab semua pesertanya adalah karyawan yang harus bekerja di siang hari dan ada juga yang bekerja dengan pola kerja shift (malam, sore, pagi). Namun tak mengapa, kami masih menikmati i'tikaf meskipun hanya di sebagian hari saja.

Kami mulai berkumpul di masjid seusai tarawih, biasanya peserta berdatangan sekitar pukul 22 dan kadang juga di atas pukul 23. Sebagian besar sibuk dengan shalat sunnat, dzikir dan tilawah Al Quran sesuai dengan target pribadi masing-masing. Di awal i'tikaf (malam 21 Ramadhan), aku sengaja mengundang guruku, Ust. Iskandar Purnama untuk mengisi taujih singkat tentang pelaksanaan i'tikaf. Ini dimaksudkan agar peserta memiliki dasar ilmu yang jelas dalam melaksanakan i'tikaf.

Peserta ada yang melewatkan malamnya hanyut bersama lantunan tilawah, ada juga yang menyempatkan beristirahat dengan niat bangun malam lebih awal, ada juga yang kelihatannya sibuk mengganggu kawannya (tapi ini hanya oknum saja, tidak setiap saat, hehe). Secara keseluruhan, peserta dibangunkan pada pukul 03 dini hari. Tidak ada shalat tahajud berjamaah seperti kebanyakan masjid lain yang aku lihat di kota Padang dahulunya. Kami hanya beribadah secara sendiri-sendiri saja.

Sekitar pukul 04, biasanya peserta diberitahukan bahwa makanan sahur telah tersedia di pelataran masjid. Alhamdulillah, makanan sahur disediakan secara gratis atau tidak dipungut biaya. Cukup mendaftarkan saja namanya di malam hari sebelum pukul 22. Jumlah nama yang terdaftar akan digunakan panitia dalam jumlah pemesanan makanan sahur.

Hal yang begitu membahagiakanku adalah membludaknya peserta i'tikaf di masjid pada tahun ini. Dahulu hanya 5-7 orang sedangkan tahun ini mencapai 25 orang peserta. Alhamdulillah. Semoga dari tahun ke tahun akan semakin banyak. Ketika umat menyadari bahwa 10 hari terakhir Ramadhan adalah puncak ibadah tahunan bagi setiap muslim, sebagaimana Rasulullah SAW meneladankannya kepada kita semua.

Aku telah jatuh hati pada salah seorang peserta i'tikaf yang dalam seharinya ternyata mampu menyelesaikan 2-3 juz tilawahnya, aku pun merasa telah dikalahkan dalam hal ini. Subhanallah, Allahu Akbar, semoga Allah menyempurnakan hidayahNya atas hambaNya yang satu ini dan Allah menganugerahkan nikmat keistiqamahan beribadah kepada dirinya. Harapanku, beliau akan menjadi bagian dari perjuangan menuju kebangkitan Islam di masa mendatang. Aamiin ya Allah.

Demikian cerita Ramadhan 1436 H dari kami. Semoga bermanfaat.

1 komentar:

Nanung Nur Zula mengatakan...

.


kalo aku sih pengen kembali ke masa ramadhan libur 40 hari, seperti yg dulu pernah dijanjikan sebagai pengganti penghilangan tujuh kata dari pancasila







DAPET REJEKI NOMPLOK








,

8 Tulisan Populer Pekan Ini