SELAMAT DATANG DI SITUS BLOG HADZIHI SABILI - JEHADEMUSA

Sabtu, 10 September 2011

Mari Mensyukuri Kekecewaan

Hmmm memang terkesan kurang tepat. Bersyukur atas kecewa? Pemilihan paduan kata yang memang kurang tepat. Biasanya bersyukur itu erat kaitannya dengan sesuatu yang membuat kita bahagia dan tenang atau sebuah keberuntungan sedangkan kecewa adalah sebaliknya, sesuatu yang membuat hati kita tidak tenang. Di sini saya ingin mengajak para sahabat sekalian untuk bersyukur dengan kekecewaan yang menimpa, tentu saja sesuai dengan pengalaman pribadi. Ya, bersyukur dengan kekecewaan. Kali ini kita akan berdiskusi ringan tentang kekecewaan dan cara mensyukurinya.


Hidup di dunia adalah permainan semata. Semua ragam keadaan di atas bumi tak ubahnya sebagai suatu ajang untuk melatih dan menguji ketangkasan kita dalam berhidup-kehidupan. Setiap kita pasti pernah kecewa. Kecewa itu lumrah. Kecewa itu aturan yang semestinya bergilir dalam pengalaman hidup kita, masing-masing! Kecewa itu mengiris kalbu, memang begitu adanya. Kecewa itu amat pahit, sangat! Tidak ada kata yang lebih tepat untuk mewakili makna kekecewaan selain “saya tidak ingin kecewa”. Akan tetapi bagaimana mungkin kita mengelak atas takdir atau ketentuan Allah itu wahai jiwa-jiwa yang kecewa??? Jawab! (Jangan serius nian, khawatir para pembaca sambil menangis membaca tulisan ini, karena kecewa tidak berbobot, hee).

Bagi kita yang masih mengaku manusia pasti pernah kecewa, kan begitu? Bisa saja berawal dari harapan atau keinginan yang telah terpatri rapi, lalu tiba-tiba gagal, pending, batal dan tidak jadi menjadi sebuah keberuntungan. Apalagi bila ketidakjadian atas impian itu berhubungan langsung dengan ulah manusia sekitar. Nah inilah yang seringkali kita alami yakni kecewa pada manusia. Kecewa pada kucing atau semut mungkin pernah kali ya? Suatu saat makanan lezat telah terrhidang, lalu kucing dapat rezeki sebelum kita mencicipinya. Kecewa pada kucing! Mungkin suatu saat kita kecewa karena semut menggerogoti minuman manis kita. Salah sendiri, siapa suruh satu selera dengan semut?! Tetapi kecewa pada manusia inilah yang sering terjadi. Bukan karena kita tidak menghargai kemanusiaan namun manusia itu sendirilah yang mengganggu kestabilan rasa kemanusiaan itu. Akhirnya kita kecewa! Terus dan terus demikian. Tak jarang kecewa itu menjerumuskan pada dosa putusnya hubungan silaturrahim. Na’udzubillah.

Singkat cerita, ada baiknya kita mengakhiri tulisan ini dengan membahas bagaimana mensyukuri kekecewaan sebagaimana saya utarakan pada awal tulisan di atas. Agar kecewa tak menjadi pengganjal hubungan baik kita antara sesama. Ada yang mengusulkan agar judul tulisan ini diubah menjadi “bersabar atas kekecewaan”. Usulan ini saya tolak habis karena bagi saya kekecewaan bukanlah musibah. Ini menjadi poin penting yang ingin saya sampaikan. Jangan anggap kecewa sebagai musibah melainkan peluang keberuntungan! Maksud saya adalah bagaimana bila pahitnya sebuah kekecewaan itu kita optimalkan lagi menjadi sebuah keberuntungan. Kita maksimalkan setiap bata-bata bangunan kekecewaan menjadi suatu bangunan megah dan indah. Sehingga amat layak bila kita menyebut ‘alhamdulillah’ tatkala kita jatuh kecewa. Untuk mensyukuri kekecewaan, saya mencoba mengajukan beberapa cara sebagai berikut :

Pertama, cari tahu mengapa kita kecewa?

Ada banyak orang yang kecewa tanpa ilmu. Pokoknya kecewa! Saya kecewa. Saya betul-betul kecewa dengan si fulan. Sudah banting-banting tulang kepala, tulang lengan, tulang kaki dahulu untuk membantunya dan berharap ia baik pada saya, lalu apa yang saya peroleh? Ia mengkhianati saya. Saya kecewa pada si anu. Saya mengikta janji dengannya begini begitu, lalu tiba-tiba ia berbelok dan melupakan janji itu. Saya kecewa, saya kecewa. Saya kecewa pada pemuda itu, fasihnya ia membaca qur’an membuat saya simpatik namun ternyata perilakunya jauh dari nilai-nilai Al-Qur’an. Saya kecewa. Aaaaaargghhhhhhh!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! KECEWA!

Dari kutipan drama di atas, hehe, saya menampilkan salah satu kisah yang tak indah untuk dialami. Itu kekecewaan. Para pelakon utama kisah itu atau korban kekecewaan sepertinya tidak mampu mengendalikan kekecewaannya, apalagi bila kalimat-kalimat seperti itu langsung keluar dari mulutnya dan menyebarkannya ke area publik. Bisa jadi menjadi ghibah dan sebagainya.

Untuk kasus ini, marilah dengan lapang hati mereview penyebab kita kecewa. Penyebab dari dasar hati yang terdalam. Ini tidak bisa berbohong atas nama nafsu. Ketika seseorang telah simpatik pada sang pemuda lalu kecewa terhadapnya. Ketika seseorang telah membantu si fulan lalu akhirnya ada kecewa. Ketika seseorang telah berjanji dengan si anu kemudian ada kecewa. Di sini perlu mengatur ulang niat kita. Sehingga penyebab kecewa itu dapat kita kaitkan terhadap niat awal kita. Jika kita berniat ikhlas untuk membantu, ikhlas untuk bergaul, ikhlas menerima apa adanya, ikhlas untuk simpati maka tentu saja bila di kemudian hari ada “kelainan masalah dalam proses” maka hal itu tak akan mampu mengukir kecewa di dalam diri kita. Tetap enjoy!

Kedua, apa manfaat kecewa buat kita?

Bila ada manfaat yang kita peroleh secara luar biasa apabila kita memelihara kekecewaan terhadap seseorang maka terus terang saya pun ingin kecewa. Saya ingin mengundang manusia bumi untuk mengecewakan saya. Akan tetapi bila memelihara kekecewaan membuat kita semakin menderita atau kebahagiaan yang tidak meningkat maka lebih baik tinggalkan saja kekecewaan itu. Tidak ada manfaatnya!

Kecewa dengan manusia, apakah dengan memendam kecewa terhadapnya lantas kita akan beruntung? Adakah manfaat memeliharanya dalam diri? Atau sekadar ingin berpuas diri atas kegagalan ketercapaian mimpi kita karena ulah manusia? Jujur, setelah kita mengajak kalbu untuk berdiskusi, ternyata jawabannya adalah memelihara kekecewaan tak satupun memberi manfaat malah merugikan. Kalau sifatnya begitu, Islam melarang untuk kecewa.

Ketiga, pahami bahwa peristiwa kecewa ada pelajaran dahsyat!

Di balik kekecewaan pasti ada pelajaran yang ingin disampaikan Allah atas kita. Mari kita syukuri hal ini. Amat sangat tidak mungkin kita jatuh pada lubang yang sama. Bila ada suatu cerita yang membuat kita pernah kecewa dengan sesuatu, pasti kelak kita akan lebih berhati-hati apabila bertemu lagi dengan cerita yang mirip atau hampir sama dengannya. Mari berbahagia atas kecewa yang kita alami hari ini. Giliran kita telah usai untuk menerima sebuah pelajaran menarik, yakni kekecewaan. Semoga ke depannya kita tidak terjerumus lagi dalam kisah kecewa serupa.

Di ujung penghabisan tulisan ini saya cuma punya dua buah doa sekaligus akhir dari tulisan yakni : Pertama : Allahumma ya Allah, semoga saya bisa mengamalkan tulisan ini. Amin ya Allah. Kedua : Ya Allah, jangan sampai para pembaca kecewa setelah membaca tulisan ini lalu berkata, isinya sebelumnya saya juga udah tahu kok! Allahumma amiin.

Komplek APP-Tebing Tinggi
---Sepulang shubuhan dari Masjid Al Jihad---

1 komentar:

Unknown mengatakan...

kecewa juga merupakan bentuk Tuhan mengajarkan kekuatan bagi manusia, iya gan seharusnya kita selalu bersyukur dengan semua rasa yang Tuhan anugerahkan, karena hiduo banyak rasa :)

8 Tulisan Populer Pekan Ini