SELAMAT DATANG DI SITUS BLOG HADZIHI SABILI - JEHADEMUSA

Kamis, 27 Desember 2012

Mari Memantaskan Diri (Catatan Rezeki dan Jodoh)


Bismillah,

Sahabat pembaca yang baik hati. Izinkan saya menyampaikan salah satu penghayatan saya, diri sendiri, terhadap satu kalimat dari Al Qur’an: “La yukallifullahu nafsan illa wus-aha”, Allah tidak membebankan seorang hamba kecuali menurut kesanggupannya. Ini ayat sudah banyak kita yang hafal, sudah banyak, sudah sering dibaca malah. Ini saya baca dari akhir Surat Al Baqarah yang sering kita jadikan bacaan dzikir , terutama pada pagi dan petang kita. Suatu ayat yang tidak asing lagi dan umumnya kaum muslim sudah menghafalnya. Jika belum hafal, maka hafalkan sekarang juga.

Ini bukan kajian tafsir, bukan. Saya belum berkapasitas sebagai seorang ahli tafsir, lha wong bahasa Arab saja, saya tidak mengerti, apalagi bila ditanya jumlah hafalan Qur’an dan hadits, sedikit sekali. Kali ini saya hanya mencoba menyampaikan tentang suatu hal yang saya pahami dari ayat tersebut, terutama dengan urusan rezeki dan jodoh. Suit-suit-suit…! :-)

Rezeki dan jodoh pada hakikatnya adalah sebuah amanah, sebuah ‘beban’ yang dipikulkan kepada seorang hamba Allah. Mengapa tidak? Sebab yang namanya rezeki selalu ada tuntutan-tuntuta yang mengikutinya, demikian juga dengan jodoh (ditambah juga dengan anak), ialah suatu ‘beban’ yang dipikulkan pada diri seorang hamba.

Nah, yang menarik untuk dikaji adalah mengapa banyak orang yang sangat sulit dalam meraih rezeki, pun juga dalam urusan mencari jodoh? Semua kembali pada ayat tersebut, ternyata mereka (para pencari-red) ini adalah orang-orang yang memang belum sanggup, belum layak, belum pantas memikul beban-beban itu. Kita punya hp (ponsel), rezeki, itu karena Allah tahu betul bahwa kita memang layak dan pantas punya hp. Kita punya jam tangan (agak mahal sedikit, barangkali), rezeki, itu karena Allah sangat tahu bahwa kita memang pantas memiliki hp dan sanggup melekatkannya di lenga, sanggup pula membeli baterai pengganti bila itu jam berbaterai. Semua adalah soal kepantasan memikul beban. Hanya bagi mereka yang sanggup yang akan diberi Allah.

Beban tidak selamanya berkonotasi negatif, “beban” juga dalam makna positif semisal rezeki dan jodoh tadi. Tidak mungkin Allah memberikan isteri dan anak kalau kita tidak layak memilikinya, jika kita tidak mampu memikul amanah sebagai suami dan ayah. Tidak mungkin. Hanya mereka yang pantaslah yang diberi beban, diberi amanah, diberikan tuntutan-tuntutan yang lebih. Tidak mungkin Allah memberikan kita sebuah motor jika kita tidak pantas punya motor, jika uang membeli bensin saja tidak ada, bagaimana bisa Allah beri motor? Bagi yang memiliki motor adalah mereka yang Allah yakin bahwa orang-orang ini adalah sanggup memelihara motor tersebut, sanggup merawatnya, sanggup dan pantas disebut sebagai pemilik motor.

Oleh karena itu wahai sahabat, marilah kita memantaskan diri agar dianggap Allah sebagai orang yang sanggup memikul beban. Bekerjalah, berikhtiarlah, sebab itu adalah bagian dari tawakkal penuh kepada Allah. Hanya orang-orang yang beriman saja yang sempurna tawakkalnya, selain itu tidak, melainkan mereka berputus asa!

Tebing Tinggi, Desember 2012, sepulang Shubuhan dari Masjid Al Jihad, Kompleks PT. Lontar Papyrus Pulp and Paper Industry, Jambi

Tidak ada komentar:

8 Tulisan Populer Pekan Ini