SELAMAT DATANG DI SITUS BLOG HADZIHI SABILI - JEHADEMUSA

Minggu, 02 Desember 2012

Mempertahankan Idealisme


Seiring dengan berjalannya waktu, boleh jadi idealisme yang pernah ada semakin lama semakin pudar, dan entah mungkin suatu saat nanti tidak bersisa sama sekali. Bila ini terjadi, untuk apa berpayah-payah bertahun dididik dalam suasana ketertundukan. Susah dibayangkan bila seseorang yang tadinya sangat ‘kuat’, lalu tiba-tiba berhenti mengarungi samudera perjuangan, tenggelam. Sulit dibayangkan namun kenyataan yang terjadi selalu begitu. Faktor kelelahan, kebosanan, dan tidak adanya orang-orang yang mengingatkan di sekeliling.

Idealisme itu apa? Ini yang perlu didudukkan sebelum kita mencari tahu apa faktor yang mampu membuatnya bertahan. Sebagaimana kata lain berakhiran –isme yang sering kita dengar, idealisme juga sebuah pemahaman atau keyakinan utuh tentang perlunya dan semangat berjalan di atas hal-hal atau cara-cara ideal. Ideal itu sesuatu yang sempurna, sejalan dengan kehendak yang baik. Nah, mungkin agak sedikit teoritis ya?!

Ideal bagi seorang muslim adalah ketika segala hal berjalan menurut ketetapan Allah. Kondisi ideal telah digariskan syariat dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Idealisme seorang muslim adalah pemahama utuh (sesuatu yang diilmui dan diamalkan) tentang hal-hal ideal beragama, berkeyakinan sesuai dengan tuntunan Allah. Idealisme muslim adalah sesuatu yang dapat dibentuk, dibina, dikokohkan di dalam diri.

Seseorang yang awalnya memiliki idealisme, tangguh dan masif, namun akhirnya harus menanggung derita karena terbakarnya idealisme. Tantangan zaman dan ancaman perang pemikiran bisa saja membuat semuanya hilang. Lalu apa yang perlu dilakukan sebelum hal itu terjadi? Setidaknya tidak terjadi pada diri sendiri? Berikut saya sampaikan secara singkat dan sederhana.

Pertama, perbaiki niat. Selalu ingat bahwa hidup kita adalah untuk Allah. Tidak ada yang paling bertanggung jawab tentang jalan hidup kita selain diri kita sendiri. Hidup di dunia hanya sementara dan kepada Allah kita kembali. Kita hanya punya satu tujuan, satu jalan menuju tujuan, Allah. Segala macam pengganggu jalan idealisme, abaikan! Ingat Allah, Allah, Allah. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.

Kedua, waspadai lalainya diri dalam permainan. Dunia diciptakan penuh permainan. Jangan sampai permainan mempermainkan diri kita. Selalu waspada bila suatu saat diri terlalaikan oleh hal-hal yang menipu, sesaat dan fana. Dewasa ini banyak orang yang dipermainkan oleh permainan. Awalnya ia mempermainkan permainan tetapi lama-lama malah permainan itu sendiri yang mempermainkan dirinya.
Ketiga, tunjukkan prestasi di hadapan Allah. Kerjakan amal-amal kecil, rutin, dan menyemangati kehidupan diri sendiri. Banyak amal-amal baik yang ringan dan amat mudah dilakukan. Ini sangat menyenangkan hati dan teruslah pertahankan. Dengan ini akan mengukir kebanggaan tersendiri di hadapan Allah bahwa kita memang layak menyandang idealisme.

Keempat, komunikasikan segala rencana-rencana baik kita dengan sahabat-sahabat di sekeliling. Semoga dengan dukungan mereka akan membuat idealisme kita tetap bertahan, kuat dan tak tergoyahkan. Suatu saat mulai hilang, mereka adalah orang pertama yang mengingatkan kita.

Kelima atau terakhir, berdoalah kepada Allah agar ketaatan tetap bersinar dari diri kita. Cahaya Allah menaungi hidup kita. Kekuatan penuh dicurahkan oleh Allah untuk kita dalam mengarungi segala perjuangan hidup. Ya Muqallibal Qulub, Tsabbit Qulubana ‘Ala Dinika. Ya Musharrifal Qulub, Sharrif Qulubaa ‘Ala Tha’atika. Birahmatika Ya Arhamar Rahimin.

Tidak ada komentar:

8 Tulisan Populer Pekan Ini