SELAMAT DATANG DI SITUS BLOG HADZIHI SABILI - JEHADEMUSA

Sabtu, 02 Februari 2013

MEMAKNAI PESAN LANGIT


Hidup ini adalah senda gurau, sandiwara dan permainan. Namun bukan pula berarti itu bahwa ia adalah hampa dari tanda-tanda dan tanpa perlu dimaknai setiap pesan di dalamnya. Semakin dalam kita memaknai setiap tanda yang muncul maka semakin baiklah hidup kita. Setiap tanda memunculkan pesan, pesan yang baik harus diikuti pula dengan tekad atau komitmen yang terbaik, sebab itu kita semakin yakin dan yakin. Kalau membaca tanda-tanda bahwa semua adalah permainan, kapan lagi kita ada waktu untuk serius bermain bila tidak memaknai permainan itu lebih dahulu?

Ada pesan dari langit yang perlu dimaknai tentang angka 8 dan angka 3. Angka 8 jika dibelah dua maka akan membentuk angka 3. Tidak perlu repot mencari angka lain atau sengaja mengada-ngadakan angka baru. Itu boros bagi hidup! Cukupkan saja dengan menempelnya dengan lembaran putih agar mudah bagi angka 8 menuju cita-citanya berubah menjadi 3. Ya, karena dasarnya sudah putih, maka tinggal memoles dengan sesuatu yang putih. Mudah bukan?



Kalau membanca tanda-tanda masih belum selesai, maka mari simaklah pesan dari Al-Qur’an surat ke-8 dan surat ke-3. Itu Al Anfal dan Ali Imran. Ada pesan yang dalam dari setiap surat di atas. Jika Al Anfal adalah nyayian para mujahid maka Ali Imran juga tidak kalah unik dari Al Anfal, ia adalah nyanyian tentang ujian. Tentu, kita tidak pernah menepis bahwa karakter para mujahid adalah karakter tahan uji. Tidak mungkin diberikan surga pada orang beriman jika mereka tidak diuji. Tidak mungkin disebut mujahid jika mereka tak sungguh-sungguh berjuang dan enggan tabah menghadapi ujian.

Pada surat ke-8 bacalah ayat ke 40: waintawallaw fa’lamu annallaha mawlakum, ni’mal mawla wa ni’mannashir. Jika mereka berpaling maka ketahuilah bahwasanya Allah adalah kekasihmu (pelindungmu), Dia adalah sebaik-baik kekasih (pelindung) dan sebaik-baik penolong.

Kemudian pada surat ke-3 bacalah ayat ke 173: alladzina qala lahumunnasu innannasa qad jama’u lakum fakhsyawhum fazadahum imana, wa qalu hasbunallahu wa ni’mal wakil. (Yaitu) Ketika orang-orang yang mengatakan kepada manusia (pendukung Allah dan Rasul) : sesungguhnya manusia (orang-orang quraisy/kafir) sungguh telah mengumpulkan pasukan untuk menyerangmu maka dari itu hendaklah engkau takut, maka (ternyata ucapan itu) memperkuat iman mereka dan (malah) mereka berkata: cukuplah Allah (bagi kami), dia sebaik-baik pelindung!

Maka pesan apa lagi yang harus diragukan?! Ali Imran lebih dahulu urutannya daripada Al Anfal maka bacalah: Hasbunallahu wa ni’mal wakil. Ni’mal mawla wa ni’mannashir. Cukuplah Allah bagi kami, karena ia sebaik-bai pelindung, ia sebaik-baik kekasih, ia sebak-baik penolong.

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Subhanallah,,, semua akan indah ketika kita kembalikan ke Al-Quran

Jazakallahu Khair ya Akhi Kabir.. ^_^

JHD Musa (jehademusa) mengatakan...

InsyaAllah, sebab kita telah bertekad dari dulunya bahwa keindahan hidup dan perjuangan yang hakiki hanya diperoleh ketika berada di bawah naungan Al Qur'an.

8 Tulisan Populer Pekan Ini