SELAMAT DATANG DI SITUS BLOG HADZIHI SABILI - JEHADEMUSA

Sabtu, 09 Februari 2013

Ilmu Kimia Memang Pilihan Saya

Saya memiliki minat tinggi terhadap ilmu kimia terutama dalam bidang yang berkaitan dengan biokimia dan lingkungan. Mempelajari biokimia telah memberikan kepuasan tersendiri pada diri saya setelah gagal menjadi mahasiswa kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS). Mempelajari ilmu lingkungan adalah kewajiban kita sebagai umat beragama. Hubungan yang perlu dijaga di dalam Islam adalah hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama makhluk. Artinya, ketika mempelajari ilmu lingkungan seakan telah berupaya untuk menjalin hubungan baik dengan lingkungan itu sendiri.

Saya juga senang dengan ilmu kimia analitiik, karena sudah tentu bahwa ia adalah senjata bagi orang kimia di seantero jagad. Ilmu kimia analitik, menurut saya, bukanlah ilmu yang harus terpisah dari empat bidang keahlian di dalam kimia (biokimia, kimia organik, kimia anorganik, dan kimia fisik). Kimia analitik adalah “bahasa” ilmu kimia sekaligus sebagai “matematika” dari ilmu kimia itu sendiri. Tanpa ilmu kimia analitik, siapapun yang memperlajari kimia akan buta. Ilmu kimia analitik adalah alat untuk memilah dan memilih, menentukan dan mengukur, menginformasikan dan menyatakan tentang suatu materi kimia.

Perguruan tinggi ilmu kimia yang terdapat di Fakultas MIPA (Fakultas Sains) menghasilkan lulusan saintis kimia (Sarjana Sains bidang Kimia), pendidikan akademik ini dapat ditempuh selama 8 semester. Ada juga yang berhasil menyelesaikannya secara cepat dalam 7 semester dan ada yang menempuhnya selama 14 semester. Saya, alhamdulillah, menyelesaikan pendidikan di FMIPA Kimia selama kurang lebih 9 semester (4 tahun 5 bulan) dengan predikat sangat rendah (hanya “memuaskan”) lantaran harus membawa pulang dua nilai D. Bila tanpa nilai D, pasti predikat saya “sangat memuaskan”. Dua nilai D yang saya miliki adalah dari praktikum mata kuliah Kimia Material (1 SKS) dan mata kuliah Kimia Organik Bahan Alam (3 SKS). Saya memiliki alasan mengapa memperoleh nilai D; pada mata kuliah pertama karena saya tidak suka dengan diktatorisme di laboratorium dan pada mata kuliah kedua karena saya tidak ingin menghafal reaksi-reaksi biosintesis kimia di luar kepala atau mungkin karena saya telah komitmen untuk tidak menggunakan ‘jimat’ di saat ujian. Baiklah, saatnya melupakan masa lalu suram itu. Semoga setiap keadaan memberikan pelajaran bagi saya pribadi.

Tentang diktatorisme laboratorium dan ilmu jimat, lain kali kita cerita-cerita detil ya. Sekarang cuma mau komentar saja bahwa diktatorisme yang ada di lab semisal pemaksaan kehendak asisten lab terhadap para praktikan adalah salah satu upaya pelemahan bagi dunia pendidikan kimiawan. Mengapa? Karena kimiawan itu harus dididik untuk memiliki keterampilana berpikir tingkat tinggi (high order thinking skill), nah salah satunya adalah dengan memberikan kebebasan berkreatifitas di dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan lab. Selama pekerjaan lab yang dilakukan itu tidak substansial dan ada dampak signifikannya, maka selama itu pula tidak perlu prosedur baku. Contoh, laporan praktikum harus begini begono, tanpa dasar yang jelas dan kuat. Mau tulis tangan, mau ketik komputer, mau ketik pakai mesin tik itu seharusnya dibebaskan. Hanya asisten yang memiliki low order thinking skill saja yang menjalankan diktatorisme semacam itu. Memang, hal ini telah menjadi perdebatan bertahun-tahun. Namun saya punya argumentasi ilmiah dan jelas untuk membantah diktatorisme di lab tersebut. Apalagi, atas karunia Allah, ternyata diberi kesempatan melajunjutkan kuliah di jenjang S2 pendidikan sains, terutama di dalam bidang pendidikan kimia. Wawasan saya semakin terbuka tentang bagaimana cara terbaik membelajarkan kimia kepada peserta didik. Diktatorisme, bukan pilihan!

Ohya, saya jadi hampir lupa untuk melanjutkan tulisan ini. Selama 9 semester, saya memang sibuk berorganisasi “tak karuan”. Lebih banyak waktu untuk bersenang-senang dari pada waktu bersusah-susah. Bila ada sedikit saja hal yang rumit atau susah, langsung saja saya tinggalkan dan say goodbye, abaikan. Tabiat inilah yang pada akhirnya membawa masalah juga pada diri saya sendiri. Ah, tiada guna sesal. Mengabaikan instruksi asisten lab adalah pekerjaan rutin saya sehari-hari, atau dalam keadaan tertentu melakukan negosiasi dan lobi dengan asisten lab agar diizinkan ikut praktikum. Padahal karena terlalu malas, saya sebenarnya malas membuat laporan praktikum. Apalagi laporan akhir.

Semester 1 di kampus kimia bisa dikatakan bahwa saya adalah mahasiswa IP tertinggi di angkatan saat itu. IP saya mendekati angka tiga koma delapan, diperoleh dengan murni tanpa pernah mencontek atau pakai jimat. Akan tetapi kemudian pada semester 2 dan berikutnya, secara bertahap menurun hingga pada nilai tertentu, eh tidak perlu disebutkan di sini. Pokoknya, alhamdulillah ya, sudah bisa lulus, dah!

Pada semester 1 dan 2, mahasiswa kimia disibukkan dengan ilmu-ilmu dasar seperti matematika, kimia, fisika, ilmu lingkungan, bahasa Inggris, dan etika kimia. Mata kuliah etika adalah mata kuliah yang paling tidak nyambung saat itu, kenapa? Profesor yang membahasnya tidak terlalu dalam membahas tentang persoalan-persoalan filsafat sains pada bab etika dan “kode etik” kimiawan. Malah saya lihat presentasi lebih banyak kepada etika secara umum saja, yang paling sering terdengar adalah kajian kristologi. Nah lho!?

Barulah pada semester 3 – 6, mahasiswa kimia memperoleh banyak pendalaman tentang materi ilmu kimia. Bahkan sejak semester 5 sudah mulai diizinkan untuk mengambil mata kuliah tertentu sesuai dengan minat mahasiswa. Di kampus saya, ada 5 bidang keahlian kimia yang ditawarkan yakni: Biokimia, Kimia Organik, Kimia Analitik, Kimia Anorganik, dan Kimia Fisika. Setiap bidang diasuh oleh tim dosen yang memang fokus ilmu dan penelitiannya ke bidang kimia spesifik. Kita sebut saja, Prof. Admin Alif, beliau profesor di bidang kimia fisika, Prof. Syukrie Arief di bidang kimia anorganik, Prof. Sumaryati Syukur di bidang biokimia/bioteknologi, Prof. Sanusi Ibrahim di bidang kimia organik, Prof. Hamzar Suyani di bidang kimia analitik. Jumlah profesor di jurusan kimia tempat saya belajar adalah termasuk jurusan kimia yang terbanyak profesornya di Indonesia.

Berikut ini saya tulis beberapa mata kuliah yang menjadi pilihan atau minat saya. Mata kuliah ini bukan waktu kuliah wajib melainkan mata kuliah yang bersifat pilihan, saya ambil di semester 5 – 7. Sebenarnya ada 10 mata kuliah pilihan yang saya ambil, tetapi yang saya ajukan untuk dicatat di dalam transkrip akademik hanya 8 mata kuliah saja. Selebihnya disimpan sebagai ilmu saja. 10 mata kuliah pilihan itu adalah:
1. Cara-cara Analitik Khusus (Chemical Analytical Methods for Special Purpose)
2. Teknik Penelitian Biokimia (Methodology of Biochemistry and Biotechnology Research)
3. Kimia Lingkungan (Environmental Chemistry)
4. Kapita Selekta Biomolekuler (Spesialisasi Bioinformatika / Bioinformatics)
5. Teknologi Bahan Makanan (Chemistry of Food Technology)
6. Teknologi Fermentasi (Technology of Fermentation)
7. Toksikologi Bahan Makanan (Chemistry of Food Toxicology)
8. Mikrobiologi Industri (Industrial Microbiology)
9. Elektrokimia Industri (Industrial Electrochemistry)
10. Mineralogi (Chemical Mineralogy)

Penjelasan tentang masing-masing kuliah, insyaAllah pada postingan akan datang. Demikian cerita saya, semoga bermanfaat dan menginspirasi para pembaca. Amin.

Tidak ada komentar:

8 Tulisan Populer Pekan Ini