SELAMAT DATANG DI SITUS BLOG HADZIHI SABILI - JEHADEMUSA

Sabtu, 02 Februari 2013

Peringatan Maulid Sebagai Model Syiar Berbasis Momentum


Saya cenderung tidak sepakat dengan beberapa orang aktivis dakwah yang mengharamkan dirinya terlibat di dalam kegiatan-kegiatan syiar seperti maulid. Alasan utama mereka adalah karena acara maulid tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Segala sesuatu amalan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW disebut dengan bid’ah. ya, itu benar, tetapi bukan berarti konsep pemikiran tentang bid’ah hanya dapat ditafsirkan oleh ulama tertentu saja. Ulama yang mengatakan dirinya paling murni di dalam memegang sunnah Rasulullah. Na’udzubillah.

Maulid Nabi Muhammad SAW adalah salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mengenang kembali tanggal kelahiran sang Nabi dalam catatan kalender Hijriyah. Kegiatan yang dilakukan berwujud sebagai suatu peringatan khusus kepada umat agar “KEMBALI” mencintai Nabi dan risalah yang dibawanya. Pada umumnya, maulid yang saya kenal adalah kegiatan selama beberapa jam yang meliputi: pembukaan, tilawah Al-Qur’an, dan penyampaian ceramah dari salah seorang ustadz, kemudian ditutup dengan doa (bila memungkinkan ada jeda berupa makan dan minum).

Ciri khas masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang sangat menyenangi momentum. Lihat saja kalender nasionalnya, hampir setiap tanggal selalu ada momentum khusus yang mengingatkan warga tentang suatu kisah atau cerita di masa lalu. Ambil saja contoh seperti hari kartini, hari pendidikan nasional, hari ulang tahun kemerdekaan RI, hari sumpah pemuda, hari kesaktian pancasila, hari kebangkitan nasional, dan lain-lain. Momentum-momentum yang dikaitkan dengan tanggal cukup ampuh di dalam mempengaruhi pikiran dan jiwa masyarakat. Itulah sebabnya, kita tidak perlu antipati dengan momentum lain yang lebih relijius ketimbang peringatan-peringatan umum seperti yang saya sebutkan tadi. Manfaatkan karakter masyarakat sebagai dasar konseptual untuk berdakwah.

Allah sangat menyenangi bila hamba-Nya bergerak untuk meninggikan agama Islam, salah satunya dengan mengagungkan syiar agama. Peringatan maulid adalah salah satu model syiar berbasis momentum yang sangat efektif dalam membangkitkan perasaan cinta umat kepada Nabinya. Setidaknya sebagai ajang untuk kembali ke masjid mengenang Nabi Muhammad SAW dan atau sekadar bersilaturrahim sesama umat Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, model syiar maulid adalah salah satu model yang perlu dilestarikan tetapi dengan catatan:

1. Menghindari anggapan bahwa peringatan maulid sama dengan ibadah musiman di dalam Islam seperti hanya shaum Ramadhan, shalat Id, dan ibadah lain yang sudah diatur ketat di dalam syariat. Jangan disamakan, sebab peringatan maulid hanyalah modl syiar terkini yang tidak diatur di dalam Al Qur’an dan Hadits.

2. Lebih menekankan kepada konsep peringatan ketimbang perayaan, karena keduanya berbeda secara makna filosofis. Peringatan bermakna substansif yang melibatkan pikiran dan perasaan, sementara perayaan lebih cenderung bermana basa-basi relijius dan ada kesan ikut-ikutan dengan kegiatan lain di luar Islam.

3. Tidak melakukan kegiatan yang menyimpang dari syariat seperti melakukan ritual yang berbau syirik, tahayul, bid’ah, dan khurafat di dalam agenda maulid. Jangan sampai acara peringatan maulid terkotori dengan tindakan sesat, ibadah yang menyimpang dari tata cara Islam itu sendiri.

4. Pada setiap peringatan maulid, harus ada upaya pencerdasan tentang makna kontekstual peringatan maulid itu sendiri dan juga doktrinasi tentang pentingnya meneruskan perjuangan Rasulullah dalam menegakkan agama. Jangan difokuskan kepada agenda “lucu-lucu”, terutama bila ustadz penceramahnya berkarakter humoris.

Empat catatan saya tentang peringatan maulid, insyaAllah, akan membantu upaya kita semua dalam menafsirkan peringatan maulid yang hakiki, sebagai suatu acara relijius yang jauh dari makna bid’ah, melainkan sebagai model syiar yang memanfaatkan karakter masyarakat senang momentum. Jika masih disebut bid’ah, maka biarlah kami beramal di sini dan kalian beramal di sana. Bagi kalian amal kalian dan bagi kami amal kami. Kelak Allah yang akan menjadi hakim yang seadil-adilnya. Allahu A’lam.

Ringkasan pemikiran sederhana salah seorang muslim awam yang diamanahkan sebagai salah seorang panitia acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1434 H (2013 M), Masjid Al Jihad PT. Lontar Papyrus Pulp and Paper Industry – PT. Wirakarya Sakti, Komp. Sinar Mas Group Tebing Tinggi, Tanjab Barat, Jambi.

Tidak ada komentar:

8 Tulisan Populer Pekan Ini