SELAMAT DATANG DI SITUS BLOG HADZIHI SABILI - JEHADEMUSA

Senin, 28 Januari 2013

Mengapa Ucapan Berbau Cabul?

Catatan Tentang Si Cabul

Mari tanyakan pada rumput yang bersiul, mengapa ada orang di sekitar kita amat gemar berucap cabul? Mungkin ada penyakit di dalam dirinya, ya, itu bukan sebuah "kemungkinan" tetapi suatu kepastian bahwa di dalam dirinya ada penyakit jiwa. Jiwa yang bersih akan berucap yang bersih, demikian juga bila jiwa kotor maka hanya akan keluar ucapan kotor. Jiwa yang sakit berasal dari kekotoran, jarang dibersihkan dan dikembalikan kepada pemilik hati. Mulut yang dipelihara terus menerus berucap hal-hal yang tidak baik semisal ucapan-ucapan cabul, ucapan yang berhubungan dengan seks maka akan membawa diri pengucapnya kepada jurang yang memisahkan dirinya dengan nuraninya sendiri. Waspadalah!

Ingatlah suatu pesan dari Nabi bahwa "seseorang itu kelak akan bersama dengan yang ia cintai". Pesan ini menghimbau para mukmin agar hati-hati dengan siapa ia bersama di dunia. Waspadai teman-teman kita di dunia, pilihlah yang membawa kemaslahata bagi diri. Tinggalkan yang merusak. Sahabat-sahabat kita di dunia akan menentukan kualitas kedudukan kita di akhirat kelak. Lihat saja orang yang bersahabat dengan para Nabi dan Rasul, banyak dari mereka yang dijamin masuk surga, kedudukan tertinggi di akhirat bertetangga dengan para Nabi dan Rasul. Bila saat ini tidak ada lagi Nabi, maka para ulama adalah pewaris mereka. Bersahabatlah dengan para ulama, mereka yang senantiasa dekat dengan majlis ilmu. Jika tidak mampu dengan ulama, maka setidaknya bertemanlah dengan orang yang tidak rusak.

Ohya, tulisan ini belum sempat menjawab judul di atas: MENGAPA UCAPAN BERBAU CABUL? Menurut saya, ada banyak faktor yang diduga menjadi penyebabnya. Kajian-kajian dari sisi agama sudah jelas, seperti yang saya sampaikan di atas. Berucap cabul itu karena hatinya kotor. Sementara di sisi lain semisal kaca mata psikologi khususnya pskologi pendidikan, kita dapat berasumsi bahwa kejiwaan orang-orang yang hobi berkata-kata cabul sedang dalam keadaan stabil. Hal yang paling mungkin menjadi dugaan kuat adalah:

Pertama, mereka berucap cabul karena ingin mendapatkan perhatian (meski caranya salah). Anak-anak yang berasal dari keluarga berantakan (broken home) cenderung memiliki sifat "attention seeking behaviour", perilaku mencari perhatian orang. Cara paling mudah agar pada suatu kondisi tertentu semua orang memperhatikannya yakni dengan membuat hal-hal yang unik dan mengganggu pendengaran. Dengan berkata-kata cabul, bercanda sembarangan tentang seksual, itu akan membuat dirinya diperhatikan orang dan terciptalah sebuah kepuasan di dalam dirinya.

Kedua, mereka berucap cabul karena memiliki pengalaman banyak tentang dunia seks. Dengan kata lain mereka ini dapat dikategorikan sebagai over-educated sex. Kesehariannya sangat akrab dengan materi-materi seks atau hal-hal cabul yang lain. Kemungkinan lain adalah mereka ini memiliki penyakit "gila seks" atau di dalam bahasa kerennya disebut sex maniac. Hampir setiap menit bila bercakap dengan mereka, selalu saja diselingi dengan canda-canda kecil tentang sex. Setiap topik yang mula-mula serius dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan seks, mereka arahkan agar topiknya mengarah ke topik tertentu sehingga aura cabulnya kentara.

Ketiga, mereka berucap cabul karena sedang berada dalam kondisi tertekan. Hal yang paling ringan untuk diucapkan adalah ucapan-ucapan yang bermuatan cabul. Keadaan ini membuat pikiran mereka sedikit lebih rileks dari sebelumnya.

Waduh, kasihan juga ya para penderita cabul ini. Saya tidak habis pikir mengapa Allah menciptakan para manusia yang tidak pernah malu mengumbar topik-topik cabul di depan umum. Rasulullah SAW pernah berpesan bahwa suami isteri saja yang berhubungan intim dilarang keras untuk mendiskusikannya dengan orang lain, kecuali dengan alasan tertentu yang dibolehkan syari'at. Apatah lagi bila orang-orang yang berucap cabul itu masih lajang alias belum menikah. Itu sudah over dosis kali ya?

Suatu hari karena kesal, saya bertanya kepada seorang teman di twitter: "Kalau ada orang hobi berucap cabul, maunya diapain ya?". Tidak lama kemudian dijawab via timeline twitter, "Somaliakan saja!". Duh, kasihan.

Mengakhiri tulisan ini mari berdoa "Ya Allah yang maha membolak balikkan hati, kembalikanlah hati manusia yang terlanjur kotor kepada kebersihan seperti sedia kala, ketika ia dilahirkan". Amin. (Mudah-mudahan dikabulkan ya...).

Tidak ada komentar:

8 Tulisan Populer Pekan Ini