SELAMAT DATANG DI SITUS BLOG HADZIHI SABILI - JEHADEMUSA

Selasa, 15 Januari 2013

Diskusi Malam dengan Seorang Pebisnis


Berdiskusi adalah salah satu kegemaran saya, apalagi bila diskusinya berbobot, wah bisa saja saya layani 24 jam tanpa stop, hehe nggak shalat ya?! Ah, bercanda. Namun terus terang, saya amat menyukai berdiskusi dengan siapapun, saya akan layani insyaAllah, tapi dengan catatan bahwa diskusi tersebut harus positif, menarik, dan mampu menyemangati. Bercanda juga hobi saya, siapa yang suka bercanda insyaAllah akan saya layani juga. Canda adalah diskusi paling ringan yang pernah ada di atas bumi, seringan-ringan canda adalah senyum. Dalam agama, senyum itu sama dengan bersedekah. Kesimpulannya berdiskusi adalah bersedekah. Saling berdiskusi bermakna saling bersedekah dalam berbagai hal, terutama pengalaman.

Dari strata sosial manapun, saya tidak akan membedakan rekan diskusi, mulai dari pengemis (yang nota bene stratanya hanya terpaut setingkat di bawah saya) hingga strata ekslusif semisal pejabat atau ilmuwan, itu stratanya sangat-sangat jauh di atas saya, insyaAllah akan saya layani selagi mereka meluangkan waktu untuk saya. Nah lho? Yah, begitulah memang. Cobalah sesekali kita bertemu, mari kita berdiskusi. Kita habiskan waktu untuk saling bersedekah.

Baiklah, saya pikir paragraf di atas cukup untuk memulai tulisan ini. Intinya saya akan cerita tentang hasil diskusi saya dengan seorang penjual roti bakar (baca: pebisnis roti bakar). Panjang lebar kami bercakap, hingga larut malam menjelang kedai rotinya tutup, kami masih terus berdiskusi. Sesekali diskusi kami diselingi dengan datangnya para pembeli roti bakar khas Bandung itu. Saya tidak mau menyebutkan lokasi diskusi, tidak perlu, cuma memberitahukan bahwa lokasinya persis di pinggir jalan. Yang ingin disampaikan adalah salah satu materi diskusi yang cukup menambah wawasan saya sendiri dan mungkin menginspirasi siapapun yang belum pernah mengetahuinya. Betapa hebatnya pebisnis ini memikirkan strategi bisnisnya. Ikuti lanjutannya di bawah ini.

Sang pebisnis ini berujar bahwa salah satu strategi bisnis kalau berjualan adalah pemilihan lokasi yang tepat. Ya, saya akui bahwa teori strategi bisnis tersebut juga dipercaya oleh banyak orang. Orang bodoh dalam urusan bisnis macam saya juga mengetahui teori itu. Lokasi yang tepat itu adalah yang ramai, misal pasar. Akan tetapi, lanjutnya, lokasi yang tepat itu termasuk di antaranya adalah bagaimana posisinya jika berada di tepi jalan, yakni posisi di sebelah kanan atau di sebelah kiri jalan? Nah, bagaimana itu?

Sang pebisnis roti bakar ini menjelaskan pada saya secara detil berikut contoh dan alasannya. Misalkan, jika barang jualannya ‘ringan’ atau barang yang cenderung dijadikan oleh-oleh (makanan) sebaiknya berada di sebelah kiri jalan pulang menuju rumah atau kampung, jangan di sebelah kanan. Seperti menjual roti bakar sebaiknya di sebelah kiri jalan pulang atau di sebelah kanan menuju pasar. Mengapa di sebelah kiri? Ini untuk memudahkan mereka berhenti. Bayangkan bila kita dari pasar dan ingin membeli oleh-oleh dalam perjalanan pulang menuju rumah, tentu saja tempat belanja yang kita prioritaskan adalah di sebelah kiri jalan. Menyeberang jalan adalah suatu pekerjaan yang merepotkan. Ketika tidak ada lagi yang berjualan di sebelah kiri, barulah kita memutuskan untuk berbelanja menyeberang jalan (sebelah kanan). Inipun sangat jarang dilakukan, lebih baik tidak membeli bila harus menyeberang.

Sebaliknya jika menjual barang-barang elektronik dan pakaian, sebaiknya di sebelah kiri jalan menuju pasar atau di sebelah kanan jalan menuju pulang. Alasannya hampir sama dengan apa yang dilogikakan di atas. Tujuan orang ke pasar adalah mencari barang-barang ‘berat’ dan tentu saja ketika mereka menuju pasar, mereka pasti memprioritaskan tempat belanja yang mudah dijangkau, agar tak menyeberang jalan ya di sebelah kiri menuju pasar.

Demikianlah diskusi saya dengan pebisnis roti bakar pada suatu malam hingga tengah malam. Memang tidak hanya soal lokasi bisnis ini saja yang kami diskusikan, topik yang lain banyak. Mudah-mudahan tidak ada yang bingung dengan tulisan saya kali ini. Jika masih kurang mengerti, silakan dibaca ulang, dipikirkan lagi ya. Logika berpikir sang pebisnis roti tadi langsung saya tandai dalam ponsel sebagai sumber inspirasi yang patut ditulis di dalam blog. Dengan harapan bahwa inspirasi ini mudah dipahami oleh para para pembaca yang budiman. Terima kasih.

Tidak ada komentar:

8 Tulisan Populer Pekan Ini