SELAMAT DATANG DI SITUS BLOG HADZIHI SABILI - JEHADEMUSA

Sabtu, 19 Januari 2013

Ustadz Farhan, Mengenangmu Kembali (Bagian 3)


Ini adalah lanjutan cerita saya tentang almarhum Ustadz Farhan di dalam dua postingan sebelumnya di blog ini: Ustadz Farhan,Mengenangmu Kembali (Bagian 1) dan UstadzFarhan, Mengenangmu Kembali (Bagian 2). Alhamdulillah, ini adalah bagian tulisan yang terakhir.

+++++
Kesibukan kuliah dan mungkin bisa disebut sebagai kelelahan, ini membuat kehidupan saya sedikit melalaikan banyak silaturrahim, termasuk dengan Ust. Farhan. Saya sudah jarang menyempatkan waktu untuk berdiskusi dengan beliau, bahkan ketika dulu pernah bertemu di suatu masjid (mungkin) hanya “just say assalamu’alaikum” saja dan berjabat tangan seperlunya. Tidak ada diskusi panjang, tidak ada saling bertanya kabar secara serius, tidak ada juga agenda privat bahasa Arab yang saya rencanakan sebelumnya. Pokoknya, saya sibuk, sibuk, sibuk, dan sibuk. Dan baru hari inilah saya tersadar, sepertinya saat itu Ust. Farhan bertanya dalam hatinya: “ada apa dengan bang Jul?”.

Satu agenda penting dari FPRJ Tanjung Jabung Barat pada tanggal 11 Maret 2012 yakni Outbound untuk Pelajar se-Kabupaten Tanjab Barat, saya tidak ingat lagi untuk menghadirkan Ust. Farhan, kemungkinan besar penyebabnya adalah karena saya benar-benar lupa dengan beliau kala itu. Apalagi saya juga sedang disibukkan dengan perasaan cengeng, hahhhh, dua orang saudara terbaik saya pergi meninggalkan rimba akasia. Mereka pindah bekerja ke perusahaan lain dan meninggalkan saya di Tebing Tinggi seperti akh Dadek Amin H. (Kakanda Dadek) ke perusahaan tambang emas di Panyabungan Sumatera Utara dan akh Taufiq Hidayat ke perusahaan fiberboard di Bayung Lincir Sumatera Selatan. Saya sedih, lebih tepatnya galau karena merasa akan bekerja lebih keras di dakwah kepemudaan tanpa mereka, meskipun sebenarnya masih banyak juga rekan-rekan dakwah lain yang masih tinggal di Tebing Tinggi ini. Dan ternyata benar, hasil kerja “kami” tidak sebagus ketika mereka berdua masih berada di sini. Beruntung, Allah mengirimkan Ust. Arsyi Rahman Mohammad, seorang hafizh alumnus UGM. Beliau masuk ke rimba akasia pada bulan November 2011, bergabung dengan perusahaan Sinar Mas Forestry (PT. Wirakarya Sakti).

Perjalanan dakwah kepemudaan yang kami lakoni berikutnya tidak pernah melibatkan Ust. Farhan, entah apa yang membuat saya lupa dengan beliau, lagi-lagi alasan kuliahlah, lelahlah, capeklah. Saya tidak mengerti bagaimana itu semua bisa terjadi. Termasuk di antaranya pada saat pelaksanaan agenda diskusi remaja dengan topik “Asmara Usia Dini” yang diadakan FPRJ Tebing Tinggi pada tanggal 29 April 2012, saya juga tidak melibatkan Ust. Farhan. Padahal, nama “Muhammad Farhan” tercantum jelas pada SK terakhir Dewan Pengurus Cabang FPRJ Tanjung Jabung Barat terhitung mulai 1 Januari 2012, beliau diamanahkan di bidang Syiar dan HUMAS FPRJ Tebing Tinggi. Surat Keputusan (SK) itu pun belum sempat saya serahkan ke tangan Ust. Farhan hingga malaikat maut menjemput beliau.

Bulan Mei 2012
Hari Sabtu dan Ahad tepatnya tanggal 19 – 20 Mei 2012, saya tidak ke Kota Jambi. Tidak seperti biasanya pada dua hari di akhir pekan, saya mengikuti perkuliahan Semester 2 di kampus Universitas Jambi. Tapi entah sebab apa yang membuat saya tidak ke kampus saat itu, lupa. Kemungkinan alasannya karena malas. Selama dua hari bermalas-malasan di dalam mess. Tidur bangun lalu makan dan makan ngantuk kemudian tidur, kedua aktivitas itu yang dominan menguasai hari-hari libur saya. Sebenarnya sih bukan libur, tapi meliburkan diri dan memutuskan untuk menjadi pemalas, PEMALAS! Terlalu banyak memikirkan tugas kuliah, itulah yang membuat saya semakin malas, hehe. Kok jadi lucu ya?

Kalau melihat riwayat blog saya, Mei 2012 cuma mengirim tiga tulisan di dalam blog. Salah satunya berjudul Si Ndeso Ngetwit. Itu adalah bulan dimana saya, seorang pemuda Ndeso, sudah mulai serius menggunakan twitter (jangan lupa follow twitter saya ya). Saya lebih banyak menatap HP bersama kicauan twitter ketimbang berhadapan dengan laptop, membuat tugas, makalah, atau menulis segala macam. Dua hari meliburkan diri adalah hal yang membuat perut mual, kepala pusing pada kemudian hari, karena apa? Banyak kuliah tertinggal! Tentu saja berakibat tidak baik bagi diri sendiri.

Tanggal 21 Mei 2012, Senin siang ketika saya masih di kantor. Tiba-tiba menerima telefon dari salah seorang rekan kerja yang juga aktif di FPRJ Tebing Tinggi (Pak Darul Nafis,S.Si). “Jul masih ingat dengan Farhan?” “iya, masih, ada apa?”, “beliau meninggal”, “apa ‘rul? Maksud? Dengar darimana? Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” Langsung saja saya menutup telfon, berlari menuju ruangan sebelah mencari Pak Darul. Kebetulan Pak Darul sedang berada di ruangan Pak Ahmadi, S.Si (Pak Ahmadi, karyawan senior yang menjabat sebagai kepala bidang kendali kualitas barang masuk), rupanya mereka sedang berbincang tentang kecelakaan mobil yang terjadi hari Sabtu tanggal 19, dua hari lalu. Kecelakaan itu terjadi di sekitar kilometer 12 menuju Jambi dari arah Kec. Tebing Tinggi, tidak jauh dari gerbang Purwodadi. Kabarnya, mobil kijang yang ditumpangi sekitar 5 orang itu terbalik, kemungkinan penyebabnya adalah pecahnya salah satu ban mobil sementara mobil dalam kecepatan tinggi, tekstur jalan tanah yang tidak rata mungkin saja menjadi penyebab ban pecah. Pemuda berusia sekitar 20 tahun itu terlempar keluar dari mobil. Lokasi duduknya di belakang pengemudi. Tidak ada darah yang banyak mengucur, hanya saja separuh bagian kepala bagian belakang memar parah. Sedangkan penumpang lain selamat, hanya luka-luka ringan.

Setelah yakin mendengar bahwa satu-satunya korban meninggal di dalam tragedi naas itu adalah sahabat saya, Ust. Farhan, mata saya langsung sedikit basah, sambil terus bertanya kepada Pak Ahmadi tentang kronologis kecelakaan. Dalam keadaaan gagap, iya gagap, saya bertanya lagi kok kenal Ust. Farhan? Dari jawaban Pak Ahmadi, ternyata Ust. Farhan adalah guru privat Al Qur’an untuk anak-anaknya. Ust. Farhan memiliki jadwal rutin mengajarkan Al Qur’an kepada anak-anak Pak Ahmadi di rumah.

Saat itu masih jam kantor, artinya saya tidak bisa keluar dari kantor. Kalaupun bisa, untuk apa? Toh Ust. Farhan sudah dikebumikan pada hari Sabtu kemarin. Saya sangat menyesali diri sendiri, mengapa sampai tidak mengetahui kejadian itu segera setelah Ust. Farhan menghembuskan nafas terakhir. Sedih bercampur marah, sedih karena kehilangan secara tiba-tiba, marah karena tidak ada seorang pun yang mengabari kejadian itu kepada saya, ya, tidak seorang pun yang memberitahukannya kepada saya. Seharusnya saya bisa ikut menyelenggarakan ibadah fardhu kifayah atas jenazah Ust. Farhan bila mengetahui kabar itu segera. Bahkan, jika masih berada di Kota Jambi, saya akan berupaya untuk kembali ke Tebing Tinggi siang itu juga.

Dan apa boleh buat, kejadian yang saya sesali itu telah berlalu. Sore Senin itu, segera saja saya mengetik sms dan mengirimkan kabar duka ini kepada seluruh aktivis dakwah FPRJ Tebing Tinggi, terutama yang pernah bertemu dan bekerja bersama Ust. Farhan dalam agenda pesantren Ramadhan tahun 2011 yang lalu. Tidak lupa mengajak mereka untuk takziah di rumah duka seusai isya.

Alhamdulillah, hampir seluruh pengurus FPRJ Tebing Tinggi hadir pada acara takziah malam itu. Seingat saya, kami tidak pernah berkumpul sebanyak itu, bahkan di dalam agenda FPRJ sekalipun, kehadiran pengurus secara lengkap tidak pernah terjadi. Malam itu terasa sangat spesial, ramai bersama sahabat dakwah. Ada duka yang juga berbalut kehangatan ukhuwah dan solidaritas dari rekan-rekan dakwah FPRJ. Infaq dikumpulkan oleh bendahara FPRJ, jumlahnya digenapkan dari kas FPRJ. Meski tidak seberapa tapi mudah-mudahan bermanfaat bagi keluarga yang ditinggalkan.

Begitu tiba di tempat takziah, saya langsung duduk di dekat Pak Haji Suratman. Setelah menyalami beliau, saya ‘memarahi’ beliau karena tidak menginformasikan meninggalnya Ust. Farhan kepada saya. Saya dengan mata yang berkaca-kaca mengucapkan nada kesal kepada beliau. Beliau menjawab dengan terbata-bata, saya memastikan bahwa beliau juga sedang sedih “Pak Jul, saya siang itu ke ladang, mendapat telfon bahwa Farhan meninggal, saya kaget, setelah itu langsung menuju rumah duka, saya tidak ingat apa-apa selain sedih yang mendalam, termasuk memberitahu Pak Jul. Mohon maaf”. Ya, saya memang memaklumi jawaban pak Haji. Namun  bagaimanapun juga, saya masih menyesali diri karena  tidak dapat mengikuti prosesi di detik-detik akhir kepergian Ust. Farhan, sahabat yang juga guru saya.

Kesedihan yang mendalam tampak pada wajah semua orang yang hadir takzia pada malam itu. Pak Suratman menceritakan bahwa dua minggu sebelum Farhan meninggal, kakeknya telah meninggal juga. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Saya tidak kuat membayangkan perasaan sedih Ibunda Farhan beberapa hari setelah ini. Juga nenek yang kehilangan suaminya (kakek Farhan) dan sekaligus kehilangan cucu satu-satunya dalam waktu yang berdekatan. Membayangkan itu, kembali saya meneteskan air mata untuk kesekian kalinya. Ya, Allah, sungguh Engkau maha perkasa, maha mengetahui segala sesuatu. Kami yakin Engkau tidak pernah memberi beban bagi hamba-hambaMu yang tidak kuat memikulnya. Engkau maha tahu! Duhai Allah, jadikanlah kami hamba yang sabar atas apa saja musibah dunia, jangan Engkau biarkan kami larut dalam kesedihan tanpa arahan dan bimbingan-Mu. Seusai takziah, kami pamitan dengan nenek Ust. Farhan, sementara Ibu Ust. Farhan tetap seperti biasa berada di dalam kamarnya.

Hari-hari setelah ini, hanya dua wanita tua itu yang tinggal di dalam rumah kecil berdinding papan, ada seorang Ibu yang buta dan seorang nenek yang sudah tua renta. Sang Ibu dalam keadaan menderita buta, telah bertahun-tahun menjalani kehidupan tanpa suami, beberapa pekan tanpa ayah, dan tentu saja mulai pekan ini tanpa anak satu-satunya yang dibanggakannya itu. Demikian juga sang nenek akan terus menjalani hari-hari tanpa suami, bertahun-tahun tanpa menantu, dan mulai pekan ini tanpa cucu tercinta. Farhan sejak SD telah meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu ke pesantren, sekitar 8 tahun merantau ke negeri Jawa tanpa pernah pulang pada masa itu. Komunikasi via telfon pun tidak pernah. Barulah pada tahun 2011, setelah Ust. Farhan lulus dari Madrasah Aliyah, beliau akhirnya berkesempatan pulang kampung menemui Ibu, Nenek, dan Kakeknya di sini. Bersama membangun asa dan menjadi tulang punggung keluarga. Dan hanya sekitar 1 tahun setelah bersama, ternyata Allah mencukupkan kebersamaan itu melalui panggilan ajal di tanggal 19 Mei 2012 untuk hamba yang disayangi-Nya, Ust. Farhan.

Selamat Jalan akhi, semoga kita dapat bertemu kembali di jannatullah kelak, bila Allah mengizinkan. Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami, berilah kami rahmat yang menjadikan kami semua layak berkumpul di negeri akhirat yang penuh keindahan dan sukacita, kesudahan yang Engkau janjikan bagi hamba-hamba-Mu yang beriman. Allahumma amin.

SELESAI

(jika ada informasi yang tidak benar tepat atau kurang tepat terkait almarhum, mohon memberitahukan penulis segera, kontak via komentar atau email langsung ke julhasratman@yahoo.co.uk)

Tidak ada komentar:

8 Tulisan Populer Pekan Ini