SELAMAT DATANG DI SITUS BLOG HADZIHI SABILI - JEHADEMUSA

Minggu, 15 Juli 2007

SETETES EMBUN KETELADANAN

Sebuah catatan kecil bagi setiap keluarga, serta para pejuang yang mendambakan kejayaan Islam

Suatu hari, ketika penulis berkunjung dengan maksud bersilaturrahim ke sebuah keluarga yang sederhana di salah satu sudut kota ini, ada sebuah pengalaman berharga yang menjadikan sumber inspirasi lahirnya tulisan ini.

Ada suatu studi kasus yang menarik untuk dijadikan sebagai pelajaran yang menarik bagi kita semua. Pengalaman ini merupakan fenomena yang seringkali ditemukan di dalam kehidupan kita sehari-hari. Kiranya dengan adanya tulisan ini dapat menambah sedikit ilmu atau sekedar mengingatkan kita akan beberapa hal yang penting bagi kita, mungkin selama ini telah banyak kita lupakan dan kitapun terlena serta terbuai untuk tetap berada dalam ayunan keterlupaan kita.

“Assalamu’alaikum” . Penulis mengetuk pintu rumah dari keluarga tersebut seraya mengucapkan salam, dan segera setelah itu muncul seorang anak berusia kira-kira berumur belasan tahun. Ia langsung membukakan pintu untuk penulis dan sebelumnya terlebih dahulu menjawab salam, “wa’alaikumussalam” jawabnya. Anak itu sudah dapat dipastikan adalah anak dari sepasang suami istri dalam keluarga itu. Yah, memang benar tak lama kemudian orang tuanya pun keluar dari kamar utamakeluarga itu dan langsung menyapa saya dengan penuh keramahan. Tidak heran juga kalau anaknya mengikuti sikap dan tingkah laku kedua orang tuanya yang sangatramah memuliakan tamu.

Seperti biasa ketika seorang tamu datang, maka yang langsung terpikir oleh sang ibu rumah tangga adalah menyiapkan minuman ala kadarnya walaupun ini bukanlah suatu keharusan. Setelah beberapa lama mengobrol santai dengan keluarga itu, dari kejauhan terdengar suara azan pertanda shalat ashar sudah tiba yang tentu saja bertujuan memanggil kaum muslimin untuk melaksanakan shalat ashar secara berjamaah di masjid. Jarak masjid dari rumah keluarga itu lebih kurang limapuluh meter. Penulis langsung menuju arah suara azan tersebut dan menunaikan shalat di masjid. Sebelumnya penulis mengajak keluarga tersebut untuk pergi ke masjid namun akhirnya hanya ditemani oleh anak tersebut ke masjid. Ayahnya berkata dengan seribu dalih untuk tetap melaksanakan shalat di rumah saja. kalbu saya mengeluarkan nada : “itupun kalau dikerjakannya”, kemudian diikuti dengan nada berikutnya : “Berbaik sangka sajalah, insyaAllah sang ayah mengerjakan shalat di rumah”. Sebuah pertanyaan singkat muncul di tengah perjalanan menuju masjid, mengapa ayahnya tidak ke masjid? Nada heran yang terpikir adalah rintihan kecil dari dalam kalbu. Mengapa si anak yang masih berumur jagung yang harus memberi keteladanan kepada orang tuanya? Mengapa bukansebaliknya? Mengapa bukan sang Ayah yang memberi keteladanan???...(yang notabene beliaulah yang membesarkan anaknya dan yang seharusnya mendidik serta memberi keteladanan), sekedar ‘mencopet’ istilah orang Inggris, inilah A BIG QUESTION MARK bagi kita atau “Tanda Tanya Besar” dan seharusnya kita luruskan kembali.Kutipan cerita di atas hanya sebagian kecil dari fenomena yang kita temukan di dalam kehidupan masyarakat sekarang ini terutama kaum muslim. Jika dahulu orang tua yang memberi keteladanan terhadap anak-anaknya, lalu mengapa sekarang berbalik seratus delapan pulus derajat?

Kejadian-kejadian seperti itu adalah tolok ukur mini dari penurunan kualitasperadaban. BENAR, itulah penurunan kualitas peradaban! Buruknya peradaban manusia di dunia sekarang ini disebabkan langsung oleh semakin buruknya peradaban didalam skala yang kecil misalnya keluarga. Sekarang ini kita perhatikan bahwa faktor tama dan pertama yang menurunkan kualitas moral generasi penerus Islam merupakan akibat langsung dari penurunan kualitas moral di dalam keluarga. Seorang Ayah tidak lagi menjadi teladan terhadap anak-anaknya dan sang ibu juga tidak terlalu beda dari perilaku sang Ayah. Kedua-duanya sama! Tidak mampu menjadi teladan buat anak-anaknya. Suatu keadaan yang menggambarkan perputaran arah pembinaan dan pendidikan dalam keluarga yang berputar arah 180 derajat; memprihatinkan, sungguh merupakan perputaran yang tajam.

Fakta yang terjadi seperti di atas tidak hanya terjadi dalam satu keluarga seperti yang telah dikisahkan penulis. Akan tetapi sekarang ini kisah-kisah memprihatinkan semacam itu sebenarnya banyak juga terjadi di dalam keluarga-keluarga lain. Jika ada suatu hal-hal aneh atau asusila, katakan saja perbuatan asusila yang terjadi di dalam tataran kehidupan bangsa kita saat ini sering dikatakan sebagai ulah sang remaja. Apabila kita berpikir lebihsehat serta tidak mengkambinghitamkan sang anak (remaja) maka hal itu sebenarnya disebabkan oleh kegagalan sistem yang berawal dari dalam keluarga. Kegagalan sistem tersebut kemudian berkumpul dengan sendirinya membentuk suatu kegagalan sistem dalam masyarakat, dan secara otomatis kegagalan ini akan berjalan dari sebuah kabupaten, kegagalan sistem dari daerah kecil menuju sebuah kegagalan sistem yang lebih spektakuler, area yang lebih besar lagi. Kegagalan sistem yang terjadi bukan lagi hanya dalam skala kecil saja melainkan membawa dampak luar biasa berupakegagalan sistem di dalam sebuah tatanan bangsa yang besar seperti bangsa Indonesia sebagaimana kita saksikan sekarang ini. Banyak yang menyalahkan anak remaja sebagai faktor penyebab perbuatan asusila yang dilakukannya. Tetapi jika dikaji lebih dalam maka ada penyebab tersembunyi di balik itu, adanya kehilangan keteladanan, tentusaja diawali dari dalam keluarga.

Dalam aplikasi sehari-hari terlihat kesan reguler bahwa orangtua selalu menuntut anak-anaknya agar menjadi anak yang bermoral baik sedangkan orang tua itu sendiri gagal dalam memberikan keteladanan terhadap anak-anaknya. Fenomena seperti ini harus menjadi perhatian kita semua terutama bagi orangtua yang ingin menjadikananaknya sesuai dengan harapannya serta bagi siapapun pembaca tulisan ini. Cepat atau lambat, zaman akan mengantarkan kita untuk berprofesi sebagai orang tua. Keteladanan yang diberikan oleh orang tua jauh lebih baik dari sekedar ucapan nasihat, perintah dan larangan. Jika persepsi antara orang tua bahwaketeladanan adalah hal yang diutamakan dalam mendidik anak serta merupakan suatu keharusan yang dimilki oleh sistem pendidikan dalam sebuah keluarga, maka kisahsedih seperti di atas tidak akan pernah ada.

Kisah sedih seperti yang dialami oleh penulis ketika berkunjung dalam sebuah keluarga tadi adalah contoh kecil dari kegagalan sistem dalam keluarga. Bagaimanamungkin orang tua dapat menjadikan anaknya sebagai anak yang taat pada Allah dan beramal sholeh, sementara orangtuanya sendiri tidak mengindahkan perintah Allah dan Rasul-Nya. Keadaan ini sepatutnya menjadi pelajaran bagi setiap orangtua ataupun calonorangtua bagi anak-anaknya di masa depan.

Untuk memperkenalkan anak pada Allah maka orang tua harus sedini mungkin dapat memberi pendidikan dengan baik serta dibarengi dengan keteladanan. Mengajari anak untuk taat kepada Allah harus diawali dengan ketaatan kepada perintah orangtuanya. Logikanya, apabila anak-anaknya kelak menjadi anak yang membangkang terhadap orangtuanya sendiri maka sudah dapat dipastikan bagaimana mungkin anaknya bisa patuhterhadap hukum-hukum Allah. Oleh karena itu, hal ini sangat perlu menjadi perhatian bersama, sebab apabila gagal secara dini, maka orangtua itu sendiri yangpertama sekali menuai beribu penyesalan nantinya. Bagaimanamungkin kita bisa memperbaiki peradaban yang semakin hari semakin bobrok jika kelemahannya terletakkepada kegagalan sistem yang bermula dari sebuah keluarga. Walaupun terlihat kecil dan remeh tetapi dampaknya luar biasa. Mungkin untaian kalimattaushiyah populer Aa Gym lebih sesuai bila dituliskan disini, “mulailah dari hal yang kecil”. Hal yang kecil jangan pernah dianggap kecil dan diremehkan sebelumkita berhasil melakukannya. Peristiwa besar adalah rangkaian dari beberapa peristiwa kecil, tanpa hal yang kecil maka hal besar pasti tidak ada. Ungkapan itu tidak berlaku reversibel sebab walaupun hal besar tidak ada, hal kecilpun akan tetap ada. Pendidikan serta keteladanan dalam sebuah sistem kecil seperti keluarga akan membawa dampak negatif yang sangat besar bagi seluruh sistem lainnya apabila tidak dilakukansecara tepat dan benar. Seluruh sistem yang berskala besar seperti, RT, RW, Kelurahan, kecamatan hingga pada skop yang lebih besar lagi seperti sebuah negara akan mengalami kegagalan sistem apabila sistem yang kecil (keluarga) lebih dahulu gagal. Singkatnya, membiasakan keteladanan dalam keluarga (sistem mini) merupakan kunci dari upaya kita bersama dalam menghasilkan generasi-generasi penerus perjuangan mengembalikan izzah Islam pada masa yang akan datang. Hal yang sangat perlu kita perhatikan dan renungkan adalah :

- Bagaimana mungkin kita mampu memperbaiki dunia apabila negara kita saja, Indonesia, mengalami kegagalan dalam memberikan keteladanan
- Bagaimana mungkin kita mampu memperbaiki Indonesia jika daerah kita saja belum juga beres (gagal) dalam masalah keteladanan.
- Bagaimana mungkin pula kita mengelola tatanan serta memformat ulang tatanan di dalam kehidupan masyarakat kita dengan baik dan sempurna apabila keluarga kita sendiri tidak mampu memberikan keteladanan. Kegagalan sistem dalam keluarga khususnya keteladanan, adalah tanggungjawab besar bagi sosok teladan pertama di dalam keluarga tersebut yakni orangtua. Semuanya tergantung pada kita, diri kita sebagai orangtua di dalam keluarga kita ataupun pada diri kita sebagai “calon” orangtua bagi anak-anak di dalam keluarga kita pada masa yang akan datang.

Setetes embun keteladanan yang kita percikkan di dalam keluarga, insya Allah dapat menjadi kekuatan terbesar bagi kita dalam melahirkan generasi-generasi penerus Islam masa depan. Ingat! Kita tidak membutuhkan generasi penerus yang beragama Islam saja, tetapi yang benar-benar kita butuhkan adalah generasi penerus Islam yang memegang agamanya dengan kuat serta mampu berkorban dalam memperjuangkan Islam sehingga Islam terbebas dari penindasan dan tetap menjadi agama yang mulia dan jaya di muka bumi. Amin.

Tidak ada komentar:

8 Tulisan Populer Pekan Ini